5 Momen Langka Ketika Desainer Perhiasan Ikut Mendesain Jam Tangan Mewah

Dunia perhiasan dan watchmaking sebenarnya sudah lama berjalan beriringan. Namun, ketika sebuah jam tangan dibuat, desain biasanya tetap berada di tangan tim internal manufaktur. Karena itu, kolaborasi langsung dengan desainer perhiasan ternama menjadi sesuatu yang relatif langka.

Menariknya, beberapa kolaborasi paling unik justru lahir dari era ketika batas antara jewelry, sculpture, dan watchmaking belum seketat sekarang. Hasilnya bukan sekadar jam dengan tambahan batu mulia, tetapi timepiece dengan bahasa desain yang benar-benar berbeda.

Dari Omega hingga Audemars Piguet, berikut lima momen ketika nama besar dari dunia perhiasan ikut mengubah cara sebuah jam tangan seharusnya terlihat.

Andrew Grima untuk Omega: Secret Watch yang Bahkan Tidak Terlihat Seperti Jam

Image credit: Watchonista

Andrew Grima dikenal sebagai salah satu desainer perhiasan paling eksperimental pada abad ke-20. Pendekatannya sangat jauh dari tradisi jewelry yang hanya mengandalkan berlian dan batu mulia. Bahkan, ia pernah menyindir bahwa orang yang benar-benar membutuhkan informasi waktu bisa saja bertanya kepada sopirnya.

Namun pada 1969, Grima justru bekerja sama dengan Omega untuk proyek About Time.

Konsepnya sangat khas Grima: jam dibuat sedemikian rupa sehingga fungsi timekeeping hampir disembunyikan sepenuhnya oleh material dekoratif. Koleksi ini menghadirkan jam unisex dengan movement tersembunyi di balik batu yang dipotong dan dibentuk secara khusus.

Hanya sekitar 55 unit yang dibuat secara handmade di London. Menariknya, baik nama Grima maupun Omega tidak ditampilkan secara mencolok pada dial.

Bagi Grima, jam tersebut bukan tentang memamerkan logo watchmaker. Fokusnya justru pada objek artistik yang kebetulan memiliki fungsi menunjukkan waktu.

Dan justru karena itulah About Time menjadi salah satu contoh paling menarik dari pertemuan jewelry design dengan horology.

Serge Manzon untuk Longines: Ketika Jam Berubah Menjadi Patung Industrial

Image credit: Watchonista

Jika Andrew Grima membawa pendekatan jewelry ke jam tangan, Serge Manzon mengambil arah yang hampir berlawanan.

Desainer otodidak asal Prancis ini dikenal bekerja lintas disiplin, termasuk furniture, sculpture, lighting, dan jewelry. Pada 1973, Longines mengundangnya untuk membuat sebuah rangkaian jam tangan yang kemudian diperkenalkan di Basel.

Hasilnya adalah 11 model berbahan sterling silver yang jauh dari estetika jam konvensional.

Alih-alih membuat case yang sekadar membungkus movement, Manzon memperlakukan case sebagai objek desain. Bentuknya terasa seperti sculpture industrial berukuran kecil—lebih dekat dengan karya seni kontemporer daripada dress watch tradisional.

Kolaborasi tersebut hanya berlangsung sekitar satu tahun, sehingga relatif singkat dibandingkan sejarah panjang Longines.

Namun menariknya, sejumlah karya Manzon masih muncul di pasar sekunder. Bagi kolektor, jam-jam tersebut menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya sejarah Longines, tetapi juga potongan sejarah desain Prancis era 1970-an.

Jean Schlumberger untuk Tiffany & Co.: Desainer yang Boleh Menandatangani Karyanya

Image credit: Watchonista

Nama Jean Schlumberger memiliki posisi istimewa dalam sejarah Tiffany & Co.

Ia merupakan salah satu dari hanya empat desainer yang mendapat izin untuk menandatangani karya yang dibuat untuk rumah perhiasan tersebut. Status ini menunjukkan betapa besar pengaruh Schlumberger terhadap identitas visual Tiffany.

Salah satu contoh menarik dari karyanya adalah jam persegi panjang berukuran sekitar 23 mm dengan case emas kuning 18 karat.

Proporsinya kecil, tetapi karakter desainnya sangat kuat. Schlumberger membawa bahasa desain yang menggabungkan keanggunan klasik dengan bentuk-bentuk geometris yang terasa lebih industrial.

Jam tersebut kemudian semakin dikenal setelah dipopulerkan oleh editor Vogue legendaris André Leon Talley.

Inilah salah satu alasan mengapa kontribusi Schlumberger menarik untuk dilihat dari perspektif watchmaking. Ia tidak sekadar membuat “jewelry watch”, melainkan membawa identitas seorang jewelry designer ke dalam struktur sebuah timepiece.

Carolina Bucci untuk Audemars Piguet: Dari Florentine Finish ke Frosted Gold

Image credit: Watchonista

Kolaborasi Carolina Bucci dengan Audemars Piguet menunjukkan bagaimana teknik tradisional jewelry dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang terasa sangat modern.

Bucci dikenal dengan teknik Florentine finish, yaitu tekstur permukaan emas yang dibuat menggunakan proses hammering untuk menghasilkan pantulan cahaya yang sangat halus dan berkilauan.

Audemars Piguet kemudian menerapkannya pada konsep Frosted Gold untuk Royal Oak.

Alih-alih menggunakan berlian untuk menciptakan efek sparkle, permukaan emas itu sendiri dibuat menangkap cahaya dari berbagai sudut. Hasilnya memberikan karakter yang berbeda dari finishing polished atau brushed konvensional.

Eksperimen tersebut kemudian berkembang semakin jauh.

Pada 2022, kolaborasi ini menghasilkan Royal Oak Selfwinding 34 mm dalam ceramic hitam dengan dial holografis. Motif Tapisserie tidak langsung terlihat seperti dial Royal Oak biasa; pola tersebut baru semakin jelas ketika jam digerakkan dan terkena cahaya dari sudut berbeda.

Di sini, kontribusi seorang jewelry designer bukan hanya soal material. Bucci membantu mengubah cara permukaan jam berinteraksi dengan cahaya.

Gilbert Albert untuk Omega: Secret Watch yang Terinspirasi Gerakan Karang

Image credit: Watchonista

Satu lagi nama besar dari dunia perhiasan yang pernah bekerja sama dengan Omega adalah Gilbert Albert.

Albert memiliki latar belakang yang sangat kuat dalam watchmaking. Sebelum dikenal sebagai desainer jewelry independen, ia pernah menjadi kepala workshop di Patek Philippe.

Namun karya personalnya kemudian berkembang jauh dari estetika haute horlogerie konvensional. Ia dikenal berani menggunakan material tidak biasa seperti fosil, meteorit, hingga lava.

Untuk Omega pada 1968, Albert menciptakan Frisson d’Or, atau “Getaran Emas”.

Jam tersebut mengambil bentuk secret watch dalam emas 14 karat. Alih-alih terlihat seperti jam biasa, desainnya dibuat menyerupai gerakan karang atau organisme bawah laut.

Konsep ini memperlihatkan bagaimana Albert menggunakan bentuk organik sebagai bahasa desain—sesuatu yang kemudian menjadi salah satu ciri khas karyanya.

Yang lebih menarik, desain prototipe Cobra miliknya kemudian disebut menjadi salah satu inspirasi bagi Urwerk UR-CC1 pada 2009.

Artinya, eksperimen seorang jewelry designer dari dekade 1960-an ternyata dapat memiliki efek yang jauh lebih panjang terhadap evolusi desain jam tangan modern.

Ketika Jewelry Designer Tidak Lagi Sekadar Menghias Jam

Lima kolaborasi tersebut menunjukkan satu hal penting: hubungan antara jewelry dan watchmaking tidak selalu berarti menambahkan berlian, emas, atau batu mulia ke sebuah jam.

Dalam kasus Andrew Grima, jam hampir menghilang di balik objek artistiknya. Serge Manzon mengubah case menjadi sculpture. Jean Schlumberger membawa bahasa desain pribadinya ke dalam sebuah timepiece. Carolina Bucci mengubah cara emas memantulkan cahaya, sementara Gilbert Albert menggunakan bentuk organik untuk menantang definisi sebuah jam tangan.

Dengan kata lain, kontribusi terbesar para desainer ini bukanlah apa yang mereka tambahkan pada jam, melainkan bagaimana mereka mengubah cara sebuah jam dapat dirancang sejak awal.

Itulah yang membuat kolaborasi semacam ini tetap menarik bagi kolektor hingga sekarang. Ketika watchmaking bertemu jewelry design pada level tertinggi, hasil akhirnya bisa menjadi sesuatu yang berada di antara jam, perhiasan, dan karya seni—dan justru karena itu, tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kategori saja.

Sumber:

https://www.watchonista.com/articles/depth/midas-touch-five-crucial-jewel-designer-x-watch-brand-collaborations

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *