Longines kembali menggali salah satu bab paling penting dalam sejarah chronograph-nya. Setelah melakukan pembaruan besar pada Master Collection sepanjang 2026, manufaktur asal Saint-Imier tersebut kini memperkenalkan Chrono Monopusher—sebuah chronograph dengan seluruh fungsi start, stop, dan reset yang dikendalikan melalui satu tombol di crown.
Konsep tersebut bukan sekadar eksperimen desain. Longines memiliki sejarah panjang dengan monopusher chronograph, termasuk salah satu chronograph wristwatch monopusher awal yang diproduksinya pada 1911. Lebih dari satu abad kemudian, tradisi tersebut akhirnya kembali ke Master Collection dalam bentuk yang lebih modern dan elegan.
Case Lebih Bersih Tanpa Pusher Chronograph Terpisah

Hal pertama yang membedakan Chrono Monopusher adalah tentu saja bentuk case-nya.
Dengan diameter 41mm, ketebalan 12,6mm, dan lug-to-lug 48,6mm, jam ini tetap berada dalam proporsi yang cukup kontemporer. Lug memiliki lebar 21mm, sementara bezel concave baru menciptakan transisi yang lebih halus antara case dan dial.
Namun, absennya pusher chronograph konvensional membuat perbedaan paling besar.
Alih-alih memiliki dua tombol di sisi kanan case, seluruh fungsi chronograph dikendalikan melalui satu tombol yang terintegrasi dengan crown. Hasilnya adalah profil yang lebih bersih dan secara visual lebih dekat dengan chronograph klasik era awal abad ke-20.
Pendekatan ini juga membuat Master Collection Chrono Monopusher terasa lebih seperti dress chronograph daripada sports chronograph modern.
Dua Dial dengan Karakter Pertengahan Abad ke-20

Longines menawarkan dua pilihan dial yang sama-sama mengambil inspirasi dari estetika watchmaking pertengahan abad ke-20.
Varian pertama menggunakan dial biru frosted barleycorn, dipadukan dengan jarum dan angka rhodium-plated. Tekstur barleycorn memberikan permainan cahaya yang membuat permukaan dial tidak terlihat datar.
Pilihan kedua menggunakan dial silver opaline dengan angka Arabic berlapis rose gold 5N. Konfigurasinya memberikan karakter yang lebih hangat dan formal dibanding versi biru.
Di bagian tepi terdapat skala pulsometer yang mengelilingi dial. Skala tersebut bukan sekadar dekorasi vintage. Pada era ketika chronograph digunakan sebagai alat bantu medis, pulsometer membantu dokter menghitung denyut jantung pasien berdasarkan pengukuran waktu.
Layout chronograph-nya sendiri menggunakan subdial 30 menit di posisi 3 dan small seconds di posisi 9, sementara jarum chronograph berada di tengah.
Komposisi tersebut membuat fungsi chronograph tetap mudah dibaca tanpa membuat dial terlihat terlalu padat.
Kaliber L799.5, Manual-Wind dengan Column Wheel

Di balik case sapphire terdapat kaliber L799.5, movement manual-winding yang dikembangkan secara eksklusif untuk Longines.
Salah satu detail yang paling menarik adalah column wheel yang diberi finishing heat-blued dan dapat dilihat melalui caseback.
Movement ini juga menggunakan silicon balance spring untuk meningkatkan ketahanan terhadap medan magnet, memiliki frekuensi 4Hz, serta menawarkan power reserve sekitar 68 jam.
Finishing movement memperlihatkan kombinasi Côtes de Genève, perlage, dan blued screws. Beberapa elemen mekanis bahkan terlihat melalui cutout di area dekat crown, memberikan sedikit gambaran mengenai kompleksitas mekanisme monopusher dari sisi depan maupun belakang.
Dengan demikian, movement bukan hanya berfungsi sebagai mesin penggerak, tetapi juga menjadi bagian dari daya tarik visual jam.
Longines dan Sejarah Chronograph Monopusher Sejak 1911

Penggunaan monopusher memiliki hubungan yang sangat kuat dengan sejarah Longines.
Pada 1911, Longines sudah memproduksi salah satu chronograph wristwatch monopusher awal. Beberapa tahun kemudian, manufaktur ini memperkenalkan kaliber 13.33Z pada 1913, yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan chronograph wristwatch berukuran lebih compact.
Movement tersebut juga memiliki hubungan dengan dunia penerbangan. Teknologi chronograph Longines digunakan oleh sejumlah tokoh penerbangan pada era awal abad ke-20, termasuk Amelia Earhart dan Richard Byrd.
Karena itu, Chrono Monopusher baru ini bukan sekadar menggunakan desain vintage untuk kepentingan estetika. Longines memang mengambil salah satu teknologi yang menjadi bagian nyata dari sejarah manufakturnya dan membawanya kembali ke koleksi modern.
Strap Alligator dengan Micro-Adjustment

Chrono Monopusher hadir menggunakan strap alligator yang dilengkapi folding clasp triple-safety.
Clasp tersebut juga memiliki sistem micro-adjustment, sehingga pengguna dapat melakukan penyesuaian kecil pada ukuran strap untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman di pergelangan.
Dua referensi yang diperkenalkan adalah L2.960.4.78.2 untuk dial silver opaline dan L2.960.4.93.2 untuk dial biru.
Keduanya kini menjadi bagian dari perluasan Master Collection Longines.
Kesimpulan
Dengan Chrono Monopusher, Longines berhasil mengambil salah satu elemen paling tua dalam sejarah chronograph mereka dan memasukkannya ke dalam Master Collection modern tanpa membuatnya terasa seperti sekadar reproduksi vintage.
Case 41mm memberikan proporsi kontemporer, dial membawa estetika pertengahan abad ke-20, sementara kaliber L799.5 mempertahankan kompleksitas teknis melalui column wheel, silicon balance spring, dan konstruksi manual-winding.
Yang paling menarik justru adalah cara Longines menghidupkan kembali konsep yang sudah berusia lebih dari satu abad tersebut. Satu crown, satu tombol, tiga fungsi chronograph—sebuah desain sederhana di permukaan, tetapi menyimpan sejarah panjang di baliknya.
Sumber:
https://www.hodinkee.com/articles/longines-introduces-a-new-monopusher-chronograph-design-and-updates-its-triple-calendar-chronograph
