Salah satu komplikasi jam tangan yang terlihat sederhana tetapi sebenarnya penuh kompromi adalah worldtimer. Menampilkan banyak zona waktu dalam satu dial bukan lagi tantangan baru, tetapi ada satu masalah yang selama puluhan tahun sulit ditangani secara elegan: daylight saving time (DST).
Untuk merayakan ulang tahun ke-9, MING mencoba memberikan solusi melalui 57.05 Comet. Worldtimer terbaru dari brand asal Malaysia ini dilengkapi sistem yang masih dalam proses paten dan dirancang untuk mengakomodasi perubahan waktu akibat DST—sebuah pendekatan teknis yang membuatnya berbeda dari kebanyakan worldtimer konvensional.
Namanya sendiri mengambil inspirasi dari de Havilland Comet, pesawat jet komersial pertama di dunia. Namun bukan hanya nama yang menarik. Ketika bezel internal diputar, dial-nya bahkan dapat menciptakan ilusi visual menyerupai ekor komet.
Dial dengan “Ekor Komet” yang Baru Muncul Saat Diputar

MING dikenal cukup sering menggunakan trik visual untuk membuat dial terlihat lebih kompleks daripada konstruksi sebenarnya. 57.05 Comet melanjutkan pendekatan tersebut melalui sistem bezel internal yang interaktif.
Di bawah permukaan dial terdapat raster biru berlapis-lapis. Ketika bezel dalam diputar untuk mengatur zona waktu, lapisan tersebut ikut bergeser.
Pergerakan itu kemudian menciptakan area putih yang secara visual menyerupai ekor komet.
Efeknya bukan sekadar dekorasi. Karena muncul sebagai konsekuensi dari pengoperasian fungsi worldtimer, animasi visual tersebut terasa menyatu dengan mekanisme jam.
Ini merupakan salah satu karakter MING: membuat fungsi teknis sekaligus menjadi bagian dari pengalaman visual.
Case Ringkas dengan Desain Triple-Stepped

57.05 Comet menggunakan case stainless steel dengan konstruksi triple-stepped.
Diameternya mencapai 40 mm, dengan panjang 47,8 mm dan ketebalan hanya 10,33 mm. Proporsi tersebut membuatnya tetap relatif ringkas untuk sebuah worldtimer mekanis dengan tampilan multi-zona waktu.
Desain case ini sebenarnya bukan benar-benar baru. Arsitektur triple-stepped tersebut pertama kali muncul setahun sebelumnya pada MING 57.04 Iris, sebuah monopusher chronograph.
Kali ini MING menggunakan fondasi case yang sama untuk fungsi yang sama sekali berbeda.
Alih-alih chronograph, ruang tersebut kini menjadi wadah bagi mekanisme worldtimer dengan sistem pengaturan zona waktu yang lebih kompleks.
Movement Sellita 330.M2 dan Solusi DST dari Warisan Louis Cottier

Di balik 57.05 Comet terdapat movement automatic Sellita 330.M2.
Movement ini beroperasi pada frekuensi 28.800 vph dengan power reserve sekitar 50 jam. Bridge dan baseplate berlapis anthracite dapat terlihat melalui caseback sapphire.
Namun daya tarik terbesar jam ini bukan sekadar movement dasarnya.
Sistem worldtimer-nya mengambil inspirasi dari arsitektur yang dikembangkan watchmaker Jenewa Louis Cottier pada era 1930-an. Cottier merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan worldtimer modern, terutama melalui penggunaan rotating city ring dan 24-hour indication.
Masalahnya, worldtimer tradisional memiliki kelemahan yang cukup mendasar: dunia tidak selalu bergerak mengikuti zona waktu yang sama sepanjang tahun.
Beberapa negara menerapkan DST, sementara negara lain tidak. Bahkan negara yang menerapkan DST dapat mengubah tanggal mulai dan berakhirnya sesuai kebijakan masing-masing.
57.05 Comet dirancang untuk mengakomodasi perubahan tersebut melalui mekanisme yang memungkinkan indikasi zona waktu disesuaikan ketika terjadi perubahan DST.
Sistem ini masih dalam proses paten, sehingga MING memosisikannya bukan sekadar sebagai variasi desain worldtimer, tetapi sebagai solusi terhadap persoalan praktis yang memang dihadapi komplikasi tersebut.
Worldtimer Paling Terjangkau dari MING

Menariknya, MING tidak memosisikan 57.05 Comet sebagai produk ultra-eksklusif yang hanya ditujukan untuk segelintir kolektor.
Brand ini justru menyebutnya sebagai worldtimer paling accessible yang pernah mereka buat.
Pendekatan tersebut cukup masuk akal mengingat MING sendiri memiliki struktur tim yang tersebar di beberapa negara. Dengan anggota tim yang bekerja dari empat negara berbeda, kemampuan membaca beberapa zona waktu sekaligus bukan sekadar gimmick bagi mereka.
Worldtimer dalam konteks ini memiliki hubungan langsung dengan cara kerja brand.
Dan nama Comet juga terasa tepat. Sama seperti pesawat de Havilland Comet yang menjadi simbol perubahan besar dalam sejarah penerbangan komersial, MING menggunakan 57.05 untuk mencoba membawa pendekatan baru terhadap komplikasi yang sudah berusia hampir satu abad.
MING Membuat Worldtimer Lebih Adaptif

Worldtimer mungkin bukan komplikasi yang paling spektakuler secara visual. Tidak ada tourbillon yang berputar atau perpetual calendar dengan puluhan komponen bergerak yang mudah dipamerkan.
Namun justru masalah kecil seperti DST menunjukkan mengapa watchmaking masih memiliki ruang untuk inovasi.
Dengan 57.05 Comet, MING tidak mencoba menciptakan worldtimer dari nol. Mereka mengambil konsep yang sudah mapan sejak era Louis Cottier, kemudian mencari cara agar sistem tersebut lebih relevan dengan dunia modern.
Ditambah dial yang dapat berubah membentuk “ekor komet” ketika bezel diputar dan case triple-stepped yang hanya setebal 10,33 mm, hasil akhirnya tetap terasa sangat MING: teknis, eksperimental, tetapi tidak kehilangan unsur playful.
Untuk ulang tahun ke-9, 57.05 Comet menjadi pengingat bahwa inovasi dalam watchmaking tidak selalu harus berupa komplikasi baru. Terkadang, memperbaiki masalah kecil yang sudah lama diterima sebagai bagian dari keterbatasan sebuah komplikasi justru bisa jauh lebih menarik.
Sumber:
