5 Rolex yang Membuktikan Brand Ini Bukan Cuma Soal Submariner

Reputasi Rolex sebagai pembuat jam tangguh memang tidak bisa dilepaskan dari Submariner, GMT-Master, atau Daytona. Namun, sejarah Rolex sebenarnya jauh lebih beragam daripada deretan sport watch yang paling sering terlihat di pergelangan tangan.

Dari Yacht-Master yang lebih mengutamakan gaya, Oyster Perpetual berukuran 34mm, Oysterquartz dengan desain integrated bracelet, Cellini sebagai dress watch, hingga Prince dengan case persegi bergaya Art Deco, ada banyak Rolex yang menawarkan perspektif berbeda terhadap identitas brand.

Kelima model ini mungkin tidak sepopuler Submariner, tetapi justru di situlah daya tariknya. Bagi kolektor yang mulai bosan dengan formula Rolex yang terlalu familiar, model-model tersebut menawarkan cara lain untuk melihat Crown.

Yacht-Master: Rolex yang Berani Tampil Sekadar Indah

Rolex Yacht-Master II up close
Image credit: Fratello Watches

Yacht-Master menunjukkan bahwa Rolex tidak selalu harus membangun sebuah jam di sekitar fungsi tool watch yang sangat spesifik.

Diperkenalkan pada 1992, Yacht-Master memang memiliki rotating bezel dan secara visual sekilas dapat mengingatkan pada Submariner. Namun, keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Submariner sejak awal memiliki hubungan erat dengan dunia penyelaman dan ketahanan di bawah air. Yacht-Master justru dikembangkan dengan konteks yachting dan leisure yang lebih santai.

Karena itu, Yacht-Master dapat tampil lebih mewah dan dekoratif tanpa harus mempertahankan citra instrumen penyelaman.

Bagi Fratello, daya tarik Yacht-Master justru terletak pada pengakuan bahwa sebuah Rolex boleh dibuat karena terlihat bagus. Ia tidak harus selalu membawa narasi mengenai ekspedisi, kedalaman laut, atau pekerjaan profesional.

Karakter tersebut membuat Yacht-Master relatif fleksibel. Jam ini bisa masuk ke gaya kasual maupun suasana yang lebih formal tanpa terlihat seperti sedang mencoba menjadi alat profesional tertentu.

Bahkan Yacht-Master II membawa pendekatan yang lebih eksentrik melalui fungsi regatta timer, sebuah komplikasi yang sangat spesifik bagi pengguna yang memang berkaitan dengan balap kapal.

Dengan kata lain, Yacht-Master adalah Rolex yang menunjukkan sisi brand yang lebih playful dan lifestyle-oriented.

Oyster Perpetual 34mm: Kesederhanaan yang Elegan

Rolex Oyster Perpetual 1002 wrist shot
Image credit: Fratello Watches

Oyster Perpetual 34mm merupakan salah satu bentuk Rolex paling sederhana karena menghilangkan banyak elemen yang biasanya membuat sebuah Rolex langsung dikenali sebagai sport watch.

Tidak ada tanggal, rotating bezel, atau chronograph pusher. Yang tersisa hanyalah case Oyster, dial, dan movement yang menjalankan fungsi dasar untuk menunjukkan waktu.

Justru karena kesederhanaannya, Oyster Perpetual menjadi salah satu model yang paling dekat dengan konsep awal Rolex sebagai pembuat jam sehari-hari yang berkualitas.

Akar desainnya bahkan lebih tua daripada mitologi tool watch yang kemudian berkembang di sekitar Submariner dan GMT-Master. Konsep Oyster sendiri telah menjadi bagian penting sejarah Rolex sejak era 1920-an.

Ukuran 34mm juga memberikan karakter yang sangat berbeda dari banyak Rolex modern berukuran lebih besar.

Proporsi tersebut membuat Oyster Perpetual terasa understated. Ia tidak berusaha mencuri perhatian melalui bezel, komplikasi, atau material yang mencolok.

Namun, justru karena tidak dirancang khusus untuk satu jenis aktivitas, jam ini dapat berpindah dari suasana kasual ke formal dengan sangat mudah.

Bagi kolektor yang menganggap Rolex modern terlalu identik dengan status dan sport watch, Oyster Perpetual 34mm menawarkan pendekatan yang jauh lebih tenang.

Oysterquartz: Era Integrated Bracelet Rolex

Image credit: Fratello Watches

Oysterquartz membuktikan bahwa Rolex pernah bereksperimen cukup jauh dengan desain integrated bracelet dan movement quartz.

Diperkenalkan pada 1977, Oysterquartz merupakan salah satu bab paling berbeda dalam sejarah Rolex.

Berbeda dari mayoritas Rolex yang menggunakan case bulat dengan lug terpisah dan bracelet yang dipasang secara konvensional, Oysterquartz memiliki bracelet yang mengalir langsung ke case angular.

Desainnya sangat mencerminkan estetika akhir 1970-an, ketika integrated-bracelet watch mulai menjadi salah satu bahasa desain paling penting dalam industri jam Swiss.

Periode tersebut juga merupakan era ketika jam seperti Audemars Piguet Royal Oak dan Patek Philippe Nautilus memperlihatkan bahwa sebuah luxury watch tidak harus menggunakan format dress watch tradisional.

Rolex kemudian memberikan interpretasinya sendiri melalui Oysterquartz.

Yang membuatnya semakin menarik adalah penggunaan movement quartz in-house. Ini menjadi pengingat bahwa Rolex juga pernah serius mengeksplorasi teknologi quartz ketika industri jam sedang menghadapi perubahan besar.

Produksi Oysterquartz akhirnya berhenti pada 2001. Kini, model tersebut memiliki daya tarik tersendiri di kalangan kolektor yang menginginkan Rolex dengan desain berbeda dari case Oyster bundar yang lebih familiar.

Bahkan bagi orang yang tidak terlalu mengenal jam tangan, Oysterquartz dapat terlihat seperti sesuatu yang sama sekali berbeda dari Rolex yang biasanya mereka kenal.

Cellini: Dress Watch Tanpa Case Oyster

Rolex Cellini Moonphase on its side, crown up
Image credit: Fratello Watches

Cellini menunjukkan bahwa Rolex pernah memiliki lini dress watch yang sepenuhnya keluar dari filosofi case Oyster.

Jika sebagian besar Rolex modern sangat erat dengan case Oyster, Cellini justru mengambil jalan berbeda.

Lini yang kini sudah dihentikan tersebut menggunakan case yang lebih tipis, leather strap, dan desain dial yang ditujukan untuk pakaian formal.

Tidak ada screw-down crown atau karakter water-resistant tool watch yang menjadi ciri banyak Rolex lainnya.

Beberapa Cellini menggunakan bezel fluted, sementara referensi lainnya hadir dengan pendekatan yang lebih minimalis. Namun, keseluruhannya memiliki tujuan yang sama: menawarkan Rolex untuk konteks yang lebih dekat dengan jas dan pakaian formal daripada aktivitas outdoor.

Cellini juga memperlihatkan bahwa Rolex memiliki kemampuan membuat jam dengan karakter yang lebih halus.

Movement tetap menjadi bagian penting dari kualitas jam, tetapi presentasinya berbeda. Tidak ada rotating bezel atau bracelet Oyster yang biasanya langsung menghubungkan sebuah Rolex dengan sport watch.

Bagi seseorang yang menyukai craftsmanship Rolex tetapi tidak tertarik pada sport watch, Cellini menjadi salah satu alternatif paling menarik dalam sejarah modern brand.

Ironisnya, justru karena tidak lagi diproduksi, Cellini kini memiliki daya tarik tersendiri bagi kolektor yang mencari sisi Rolex yang lebih understated.

Prince: Rolex Sebelum Era yang Kita Kenal

Rolex Prince ref. 5442/5 wrist shot
Image credit: Fratello Watches

Rolex Prince memperlihatkan bahwa sejarah Rolex jauh lebih tua dan lebih eksperimental daripada dominasi case Oyster bundar yang dikenal saat ini.

Prince pertama kali diperkenalkan pada 1928, menjadikannya salah satu desain Rolex yang sangat berbeda dari citra modern brand.

Case-nya berbentuk persegi panjang dengan gaya Art Deco, sementara display waktu menggunakan dua subdial terpisah.

Satu subdial menunjukkan jam dan menit, sedangkan subdial lainnya menampilkan running seconds.

Desain tersebut tidak hanya memiliki karakter visual yang kuat, tetapi juga dikenal karena tingkat keterbacaannya. Rolex Prince kemudian mendapatkan julukan “doctor’s watch” karena desainnya dikaitkan dengan kemudahan membaca waktu untuk membantu pemeriksaan denyut nadi.

Rolex bahkan menghidupkan kembali Prince dalam bentuk modern pada awal 2000-an.

Meskipun reissue tersebut tetap membawa inspirasi kuat dari desain historisnya, Prince tetap berada sangat jauh dari format round steel sports watch yang sekarang menjadi wajah utama Rolex.

Bagi kolektor yang tertarik pada sejarah awal Rolex, Prince memberikan pengingat bahwa Crown pernah menghasilkan desain yang sangat berbeda dari Submariner, Datejust, atau GMT-Master.

Kenapa Rolex yang Tidak Biasa Justru Menarik?

Rolex Milgauss 1019 on wrist
Salah satu pilihan lainnya, Milgauss vintage Image credit: Bulang & Sons via Fratello Watches

Kelima model tersebut menunjukkan bahwa identitas Rolex tidak pernah sesempit sport watch yang paling populer di pasaran.

Yacht-Master menawarkan pendekatan yang lebih lifestyle-oriented. Oyster Perpetual menunjukkan kesederhanaan. Oysterquartz membawa Rolex ke era integrated bracelet dan quartz. Cellini membuktikan kemampuan brand membuat dress watch, sementara Prince membuka kembali bab sejarah Rolex sebelum desain Oyster modern menjadi dominan.

Menariknya, beberapa model tersebut justru terasa lebih eksklusif secara visual karena tidak langsung dikenali oleh semua orang.

Inilah daya tarik utama “thinking outside the box” dalam mengoleksi Rolex. Alih-alih mengejar model yang sudah menjadi simbol status universal, kolektor dapat mencari referensi yang lebih jarang dibicarakan tetapi tetap memiliki hubungan kuat dengan sejarah dan kemampuan manufaktur Rolex.

Bahkan Fratello menempatkan Milgauss vintage sebagai salah satu alternatif tambahan bagi kolektor yang ingin keluar dari pilihan Rolex yang umum. Model tersebut memang tidak termasuk lima pilihan utama artikel, tetapi karakter anti-magnetiknya dan desainnya yang berbeda membuatnya tetap relevan dalam pembahasan Rolex yang lebih eksperimental.

Memanfaatkan Nilai Koleksi Rolex

Rolex yang lebih jarang disorot tetap dapat menjadi bagian menarik dari koleksi luxury watch karena nilai sebuah jam tidak hanya ditentukan oleh popularitas model yang paling mainstream.

Referensi, kondisi, tahun produksi, kelengkapan, material, provenance, dan permintaan pasar semuanya dapat memengaruhi penilaian sebuah jam tangan.

Karena itu, memiliki Rolex seperti Oysterquartz, Cellini, Prince, Yacht-Master, atau referensi vintage lainnya dapat memberikan pengalaman koleksi yang berbeda dari sekadar memiliki sport watch paling populer.

Jika Anda memiliki Rolex atau jam tangan mewah lainnya dan ingin memanfaatkan nilai koleksi tanpa harus langsung menjualnya, gadai jam tangan mewah di deGadai dapat menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, sesuai hasil penilaian dan ketentuan yang berlaku.

Kesimpulan

Rolex bukan hanya Submariner, dan sejarah brand ini membuktikannya.

Yacht-Master memperlihatkan sisi Rolex yang lebih dekoratif dan lifestyle-oriented. Oyster Perpetual 34mm menunjukkan bagaimana kesederhanaan bisa menjadi kekuatan. Oysterquartz membawa Rolex ke era quartz dan integrated bracelet, sementara Cellini membuktikan bahwa Crown pernah serius bermain di dunia dress watch.

Kemudian ada Prince, sebuah pengingat bahwa Rolex pernah memiliki bahasa desain Art Deco yang sangat jauh dari bentuk sport watch modern.

Kelima jam ini mungkin tidak akan mengubah pandangan orang yang memang tidak menyukai apa yang direpresentasikan Rolex secara budaya. Namun, bagi kolektor yang menyukai engineering, finishing, dan sejarah brand tetapi sudah bosan melihat Submariner yang sama, model-model tersebut menawarkan alasan untuk melihat Rolex dari sudut yang berbeda.

Terkadang, Rolex yang paling menarik justru adalah Rolex yang tidak langsung terlihat seperti Rolex.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *